Thursday, June 01, 2006

Rumah Pelukis Djoko Pekik Selamat Dari Gempa

Yogyakarta - Beruntung, kiranya kata ini pantas disandangkan pada pelukis Djoko Pekik. Saat gempa menghancurkan rumah-rumah tetangganya, tempat tinggalnya justru tidak menderita kerusakan apa pun.

"Rumah tetangga saya semuanya rusak. Kebetulan saja rumah saya tidak apa-apa, mungkin ini takdir Tuhan," Kata Djoko Pekik, pelukis yang mendapat julukan pelukis 1 miliar, saat ditemui detikcom di rumahnya di Desa Bedok, Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta, Rabu (31/5/2006) pukul 23.00 WIB.

Apa yang diutarakan Djoko Pekik, menepis isu yang mengatakan jika rumahnya hancur terkena gempa. "Satu pun bangunan yang ada di rumah saya tidak ada yang rusak, listrik juga masih menyala," tegas mantan tokoh Lekra ini.

Dikelilingi sungai serta perbukitan, kediaman Djoko memang agak terpencil. Di atas tanah seluas 3 hektar, dia membangun rumah-rumah petak memanjang, yang dihuni bersama istri dan anak-anaknya.

Di kompleks ini ada juga museum gamelan miliknya dan hutan kecil dengan berbagai aneka pepohonan dan tanaman bambu, yang diramaikan berbagai jenis unggas.

Ditemani anak serta istrinya, Djoko menuturkan, karena gempa banyak rekan-rekannya sesama anggota Lekra di seluruh Indonesia yang mengkhawatirkan kondisinya.

Bahkan salah satu rekannya yang berasal dari Kediri Handoko mengirimkan 2 ton beras serta sembako, yang kemudian dia sumbangkan kepada warga.

"Saya juga sempat heran, waktu salah seorang rekan saya Samandjaya mengabarkan rumah saya hancur. Kondisi saya baik-baik saja," ungkapnya.

Tokoh yang pernah dipenjara saat Presiden Soeharto berkuasa ini juga membantah rumahnya dijadikan tempat pengungsian warga sekitar. "Yang ada disini hanya ada keluarga saya yang jumlahnya 20 orang," tegasnya.

Selepas musibah gempa, Djoko ingin menghabiskan waktunya bersama seluruh keluarga besarnya. "Untuk menjaga hal-hal yang tidak diinginkan," ucapnya.

Djoko mengaku aktivitas sehari-harinya masih diisi dengan aktivitas yang dicintainya. "Masih melukis," ucapnya singkat.

Djoko Pekik, melambung namanya ketika, lukisan karyanya yang berjudul Berburu Celeng laku terjual Rp 1 milyar. Lukisan Djoko Pekik banyak mencatat tentang runtuhnya Orde Baru.

Sumber: Detikcom

Dana dan Doa dari Oslo untuk Korban Gempa Yogya

Den Haag - Perhatian dan solidaritas terus mengalir untuk para korban gempa. WNI di Oslo mengirim dana dan sejumput doa untuk mereka.

Begitu membaca berita bencana gempa bumi yang mengguncang Yogya dan sekitarnya, masyarakat Indonesia dan jajaran KBRI di Oslo secara spontan menggalang dana dan menggelar doa bersama. Dubes RI untuk Kerajaan Norwegia, Retno Lestari Priansari Marsudi, melalui email yang diterima detikcom, Rabu (31/5/2006) melaporkan.

"Sebagai rasa solidaritas terhadap para korban gempa di Yogya dan sekitarnya, lebih dari seratus orang masyarakat Indonesia di Oslo pada 28 Mei 2006 pukul 17.00 telah melakukan doa bersama di wisma indonesia," kata Retno.

Setelah acara doa bersama, dilakukan pula ritual keagamaan sesuai dengan agama masing-masing yaitu sholat ghaib bagi yang beragama Islam serta doa bagi umat Kristiani.

Retno menuturkan, dalam acara doa bersama tersebut secara spontan masyarakat Indonesia telah mengumpulkan dana untuk meringankan beban para korban gempa. "Jumlah uang yang terkumpul pada saat tersebut adalah NOK 8.687," ujar diplomat wanita yang meroket ke posisi Dubes dalam usia muda itu.

Menurut Retno, selain merogoh kocek secara spontan, masyarakat Indonesia di Norwegia juga menyampaikan keinginan untuk membantu mencarikan dana bagi para korban. Dana ini akan dikumpulkan dan dikirimkan ke Yogyakarta. "Hal yang sama juga dilakukan oleh masyarakat Indonesia di Norwegia pada saat terjadi bencana tsunami di Banda Aceh," demikian Retno.

Sumber: Detikcom