Wednesday, May 31, 2006

Oh…Prambanan



Candi Prambanan yang berada di Kabupaten Klaten, tak luput dari kerusakan akibat gempa bumi yang mengguncang DI Yogyakarta dan Jawa Tengah, Sabtu (27/5) lalu. Situs peninggalan kerajaan Hindu berabad-abad lalu rusak, banyak ornamen-ornamen dan batu-batuan yang rontok ke tanah, hancur berantakan. Di komplek Candi Prambanan, tercatat ada tiga candi yang rusak parah, yakni Candi Wishnu, Brahma, dan Garuda.

Presiden SBY tak mampu menyembunyikan kesedihannya ketika memeriksa kondisi Candi Prambanan, Selasa (30/5) pagi. “Saya minta pada pihak-pihak terkait untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi Candi Prambanan yang rusak akibat gempa. Dalam pembangunan kembali, juga jangan mengubah bentuk semula,” kata Presiden. Kepada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Presiden Jero Wacik yang menyertainya, Presiden mempersilakan jika hendak melakukan kerjasama dengan WHO dan Unesco untuk melakukan rekonstruksi kompleks Candi Prambanan.

Selain didampingi Ibu Ani dan Jero Wacik, kedatangan Presiden ke Prambanan juga disertai Menkes Siti Fadillah Soepari, Menkeuangan Sri Mulyani, Mendiknas Bambang Sudibyo, Menhub Hatta Radjasa, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik, serta dua Jubir Kepresidenan Andi Mallarangeng dan Dino Patti Djalal. (osa/win)

Sumber: SBY.info

Aktivitas Pendidikan di Bantul Masih Lumpuh

Jakarta - Setelah gempa mengguncang Bantul empat hari lalu, aktivitas pendidikan di Bantul masih lumpuh. Kampus dan sekolah meliburkan siswanya karena kondisi gedung yang nyaris rubuh.

Dalam pantauan detikcom Rabu (31/5/2006), STIE Kerjasama di Jl Parangtritis, Sewon, Bantul, menghentikan kegiatannya. Seluruh bangunan termasuk bangunan utama yang terdiri dari lima lantai, nyaris roboh.

Di depan kampus dipasang pengumuman "Kegiatan akademis ditunda". Pengumuman ini tidak menyebutkan batas waktu yang jelas, padahal para mahasiswa sebentar lagi akan menghadapi ujian akhir semester.

Kondisi serupa juga ditemui di Kampus Institut Seni Indonesia (ISI) yang berada di Jl Parangtritis. Tidak hanya kampus, sekolah-sekolah pun meliburkan muridnya.

SMP 1 Sewon tidak menunjukkan aktivitasnya dan entah kapan kembali akan dimulai. Ruang-ruang kelas retak-retak, sementara atapnya ambrol. Kondisi ini juga terjadi di SMA 1 Jetis, SMA Imogiri, SMK 1, SMK 2, dan SMK 3 Bantul.

Pagi hari ini tidak tampak siswa sekolah yang lalu lalang seperti saat sebelum bencana. Semua siswa mengungsi bersama keluarga mereka. Belum ada informasi apakah Dinas Pendidikan Bantul akan menunda jadwal ujian atau tidak. Sepertinya mereka pun menunggu arahan dari Kanwil Dinas Pendidikan DIY

Sumber Detkcom

12 Motor Korban Gempa Bantul Digondol Maling

Yogyakarta - Maling terus berkeliaran di Bantul, Yogyakarta. Sedikitnya 12 sepeda motor milik korban gempa dicuri. Warga pun melakukan sweeping pendatang. Dasar maling!

Demikian pantauan detikcom dari berbagai Polsek di Bantul, Rabu (31/5/2006).

Sepeda motor yang dicuri adalah milik warga di Kecamatan Sewon, Kecamatan Bambanglipuro, Kecamatan Jetis, Kecamatan Padak, dan Kecamatan Sanden.

Sebagian besar rumah warga di kecamatan itu rata dengan tanah. Warga mengungsi dan listrik pun belum berfungsi. Keadaan inilah yang dimanfaatkan maling guna mencari target sasaran.

Sweeping

Selain siskampling, warga juga melakukan sweeping pendatang guna mengantisipasi keamanan di desanya.

Warga berjaga-jaga di pinggir jalan dan pintu masuk desa. Mereka tampak memegang kayu, batu dan lain-lainnya. Warga menaruh curiga pada pendatang yang tidak dapat menunjukkan identitasnya.

Orang yang tidak dikenal ini pun kerap melarikan diri jika dimintai KTP dan dikejar oleh warga. "Maling... maling...!" teriak warga.

Tidak jarang warga pun menghujani pukulan dan menggiring orang yang dianggap mencurigakan tersebut ke kantor kepolisian. Kasus tersebut terjadi di Kecamatan Sewon, Kecamatan Bambanglipuro, Kecamatan Sandak dan Kecamatan Serandakan.

Namun warga tidak sepenuhnya tepat sasaran. Misalnya, di Dusun Kalisat, Kecamatan Pandak, seorang pengendara sepeda motor dari Kulonprogo yang membawa mie instan dikejar warga.

Orang tersebut ketakutan saat dimintai identitas. Lantas warga mengejar dengan puluhan motor dan digiring ke kantor polisi. Ternyata, orang itu hanya ingin menyumbang korban gempa. Duh

Sumber: Detikcom

Tiba tiba tanah Bergetar

Pagi itu Tugiman (47) berangkat ke sawah seperti biasa. Dia tidak memiliki firasat apa-apa ketika meninggalkan istri dan kedua anaknya untuk bekerja sebagai seorang buruh tani. Penduduk Desa Ngatak,
Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, itu hanya merasakan getaran keras ketika sedang bekerja di sawah.

Ternyata getaran keras tersebut diikuti suara jerit tangis dan teriakan orang panik dari arah pemukiman penduduk Tugiman pun bergegas berlari menuju rumahnya yang berjarak ratusan meter dari sawah. “Saya terkejut, ternyata rumah saya sudah rata dengan tanah, saya tidak melihat anak istri saya,” ungkap Tugiman ketika ditemui di Ruang ICU Anak Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Soeradji Tirtonegoro, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (30/5).

Tugiman duduk bersimpuh dan terdiam tidak tahu berbuat apa-apa. Tak ada orang yang menolong, semua warga panik. Tiba-tiba dia mendengar sayup-sayup teriakan dari reruntuhan bangunan rumahnya, “Saya di sini Pak, Saya di sini Pak! Dia pun segera menyingkirkan reruntuhan bangunan dan mendapati putra sulungnya, Joko Sunaryo (16), terkulai sambil menjerit kesakitan.

“Untung saya mendengar jeritan putra saya, kemudian saya temukan dia berada di samping ibu dan adiknya. Putra saya hanya mengalami patah kaki, istri saya luka ringan di kepala, sementara anak bungsu saya tidak sadarkan diri,” katanya lirih.

Putri Tugiman, Setyorini (11), masih dalam kondisi kritis. Menurut dokter, bocah yang duduk di kelas V SD itu mengalami pendarahan di bagian otak. Bocah itu sesekali terlihat menggenggam selimut dengan keras karena menahan sakit di kepalanya. “Tadinya saya mengira dia telah meninggal dunia, namun karena saya mendengar suara napasnya satu-satu saya langsung membawanya ke rumah sakit ini,” tambah Tugiman.

Seperti kiamat di pagi hari, itulah yang mungkin dirasakan Tugiman. Hampir semua bangunan di desanya porak-poranda diguncang gempa tektonik berkekuatan 5,9 skala Richter yang terjadi hari Sabtu (27/5) lalu. “Semuanya begitu cepat, rumah saya hancur dan anak saya sampai hari ini tidak sadarkan diri,” tuturnya.

Kengerian akibat gempa di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah juga dirasakan Sugito (29) dan keluarganya. Sugito beserta istri dan seorang anaknya sedang tertidur pulas ketika gempa itu terjadi. “Kejadiannya begitu cepat sekali, rumah saya bergetar dengan sangat keras, lalu tiba-tiba saya sudah berada dalam timbunan batu dan kayu runtuhan rumah,” kata warga Desa Pacing, Kecamatan Wedi, Klaten, itu.

“Saya merasakan sakit di sekujur tubuh dan rasanya tidak bisa bergerak. Saya coba berteriak, namun semuanya sia-sia. Saya merasa mau mati saja. Namun, saya lihat anak saya menangis, istri saya mengerang kesakitan dan kepalanya berdarah. Melihat itu, saya mencoba untuk bangkit dan keluar dari reruntuhan bangunan,” tambahnya.

Dengan tenaga tersisa, Sugito berusaha sekuat tenaga menyingkirkan runtuhan bangunan yang menimpa keluarganya. Setelah berjuang lebih dari setengah jam akhirnya, pria yang bekerja sebagai buruh tani itu dapat keluar dan menolong istri dan anaknya. Istri Sugito saat ini masih dirawat di RSUP Klaten karena mengalami patah tulang.

Sementara Sugito sendiri dan Riska (3) putrinya hanya menderita cedera ringan di bagian kepala. “Mungkin karena kebesaran Tuhan saja, saya dan istri dan anak saya masih selamat, karena banyak tetangga saya yang meninggal, hampir semua bangunan di desa saya rata dengan tanah,” tambahnya.

Kehilangan harta benda dan kehilangan orang yang dicintai sangat dirasakan oleh sebagian warga Klaten. Sebagian warga yang mengungsi di RSUP mengaku masih trauma akibat kejadian tersebut. Mereka masih memilih bertahan di rumah sakit kendati telah mendapatkan perawatan dan diizinkan pulang.

“Ngeri saya bila mengingat kejadian tersebut, saya memilih tinggal di sini sementara, lagi pula rumah saya sudah hancur, saya tidak punya apa-apa lagi,” kata Sugito.

Sumber: Kompas

Air Putih Adakan Internet Gratis

Salut buat Air Putih yang telah adakan internet gratis untuk mendukung informasi bencana gempa Jateng dan DIY berikut data yang kami dapat:

Jogja :
Jl. Ampel 10, Papringan Yogjakarta
Telp. (0274) 554444
Contact person: Aries Bangun Wismo Aji

Bantul :
Pendopo Bupati Bantul

Klaten :
Pendopo Kantor Bupati Klaten
Jl. Pemuda Kabupaten Klaten

Daftar telepon Penting

Berikut ini adalah nomor-nomor penting yg bisa dihubungi:

Rumah Sakit

Yogyakarta
RSU Panti Rapih: (0274) 563333
RSU PKU Muhammadiyah: (0274) 512653
RSU Bethesda: (0274) 586688
RSUD Kota Yogyakarta: (0274) 371195

Bantul
RSUD Bantul: (0274) 367381
RSU PKU Muhammadiyah Bantul: (0274) 368238

Gunung Kidul
RSUD Wonosari: (0274) 391007

Kulonprogo
RSUD Wates: (0274) 773169
RSU Santo Yusuf Boro: (0274) 561618

Sleman
RSU Dr Sardjito: (0274) 587333
RSUD Sleman: (0274) 868437
RSU Baktiningsih: (0274) 798281
RSU Panti Rini: (0274) 496022

Klaten
RSU Dr Suraji Tirtonegoro, Jl Dr Soeradji Klaten: (0272) 326060
RS Islam Klaten RS, Jl Raya Yogya Solo Km 2 Klaten: (0272) 322252
RS Cakra Husada, Jl Merbabu No.7 Klaten
RSK Bedah Diponegoro 21, Jl Diponegoro No.21 Klaten
RS PKU Muhammadiyah Delanggu: (0272) 551051

Tim SAR
Tim SAR Yogyakarta: (0274) 587559

Posko Gempa Jogja
Jl Ampel 10, Papringan, Yogyakarta
Telp (0274) 554444 atau layanan SMS 9731
Contact person: Valens Riyadi

Satkorlak Yogyakarta
Telp. (0274) 747 7732

Satkorlak PBP DIY
Sekretariat: Komplek Kepatihan Dunurejan Yogyakarta
Telp. (0274) 563231
Contact Person : Drs. So’im, MM - Telp. (0274) 519441

Palang Merah Indonesia (PMI)

Markas Daerah Yogyakarta
Jl. Brig Jend Katamso. Yogyakarta. 55152
Telp. (0274) 376812
Hp.0811253347

Markas Cabang Kota Yogyakarta
Jl. Tegalgendu No. 25 Kotagede Yogyakarta. 55172
Telp. (0274) 372176 Fax. (0274 )379212

Markas Cabang Bantul
Jl. Jend Sudirman Bantul. 55711 (komp Dwiwindu)
Telp. (0274) 367987

Markas Cabang Gunung Kidul
Jl. Kol. Sugiyono Gg. Nusa Indah 3 - Gunung Kidul - 55812
Telp. (0274) 391244

Markas Cabang Sleman
Jl. Turgo Denggung Tridadi Sleman. 55511
Telp. (0274) 868900 Fax. (0274) 515307

Markas Cabang Kulonprogo
Jl. Bhayangkara Watuluyu. Wates 55611

Pusat Gempa Nasional
Pusat Gempa Nasional Jakarta: (021) 6586 6502

Polisi Polda DIY: (0274) 563494
Poltabes: (0274) 512511

UGM Adakan KKN Tematik Peduli Bencana

Sebagai bentuk kepedulian atas bencana alam yang menimpa saudara-saudara kita di DIY dan kota-kota di sekitarnya, LPPM UGM menyelenggarakan “KKN Tematik Peduli Bencana” yang diberi nama Kuliah Kerja Nyata Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat Peduli Bencana (KKN-PPM PB). Menurut rencana KKN ini akan diterjunkan ke lokasi bencana alam gempa bumi yang melanda Yogyakarta dan sekitarnya menyatu dengan Posko UGM Peduli Bencana bertempat di desa Trimulyo, Kecamatan Jetis, Bantul. Menurut rencana mahasiswa akan diterjunkan ke lokasi mulai 05 Juni 2006 sampai dengan 15 Juli 2006 di beberapa lokasi yang telah ditentukan berdasarkan hasil observasi Tim UGM.

Mahasiswa yang ingin bergabung dengan kegiatan KKN PPM PB ini dapat mendaftarkan diri ke kantor LPPM UGM, gedung pusat lantai 3 sayap selatan, Bulaksumur, Yogyakarta. Selain itu, mahasiswa yang telah berada di lokasi bencana dan tengah mengadakan kegiatan sosial bergabung dengan Posko-posko bencana yang lain sebagai relawan, dapat juga dianggap sebagai kegiatan KKN Peduli Bencana dengan catatan yang bersangkutan telah memenuhi syarat-syarat yang ditentukan dan harus mendaftarkan diri ke LPPM UGM.

Kegiatan KKN Peduli Bencana tersebut akan dibagi dalam 3 kegiatan, yaitu: 1. Distribusi Logistik, 2. Penanganan Kesehatan dan Trauma Center, dan 3. Infrastruktur. Peserta KKN akan mendapat pembekalan umum dan khusus yang meliputi 3 program tersebut dari Tim UGM. Sampai saat ini, jumlah calon peserta KKN Peduli Bencana tersebut adalah sebagai berikut: peserta KKN yang selama ini telah tercatat sebagai peserta KKN Reguler berasal dari beberapa fakultas selain Fakultas Teknik 528 orang, sedangkan yang tercatat dari fakultas Teknik sebanyak 490 orang. Dengan demikian telah tercatat sejumlah 1018 mahasiswa peserta KKN PPM Peduli Bencana. Jumlah ini diharapkan akan terus meningkat, mengingat kebutuhan relawan di lapangan yang terus meningkat, terutama kebutuhan daerah-daerah terpencil dan teriisolir di kawasan selatan dan timur Yogyakarta.

Pendaftaran telah dibuka sejak Senin, 29 Mei 2006 s. d. Rabu, 31 Mei 2006 setiap jam kerja 08.00 – 16.00 WIB di Sekretariat LPPM UGM Gedung Pusat Lantai 3 Sayap Selatan.

Selain KKN Peduli Bencana ini, UGM juga tetap akan menerjunkan KKN Antar Semester yang berlangsung setelah ujian akhir semester selesai, yaitu awal Juli hingga akhir Agustus 2006. Apabila keadaan di lapangan membutuhkan, tidak tertutup kemungkinan sejumlah 5000 calon mahasiswa KKN diterjunkan kembali ke lokasi bencana gempa bumi.

Sumber: UGM.ac.id