Monday, May 29, 2006

Menteri PU Cairkan Rp 6,5 M Bangun Jembatan Rusak di Yogya

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto menyalurkan dana tanggap darurat sebesar Rp 6,5 miliar untuk menyediakan air bersih, mandi cuci kakus (MCK), perbaikan jembatan yang rusak, serta tanggul dan irigasi yang pecah.

"Dana sudah keluarkan pada Minggu 28 Mei kemarin dan kita sudah instruksikan semua jajaran PU di daerah di Yogyakarta untuk menangani lebih dulu," kata Djoko.

Hal ini disampaikan dia usai acara penandatanganan Perjanjian Pengusahaan Jalan Tol di Gedung Pekerjaan Umum, Jalan Sisingamangaraja, Jakarta Selatan, Senin (29/5/2006).

Bantuan akan difokuskan pada 8 titik yaitu Lapangan Dwi Windu di Bantul, Lapangan Ndowaluh di Srirenggo, Lapangan Madukismo di daerah Kasihan, RS PKU Muhammadiyah di Bantul. RSUD Bantul, Langan Ganjuran di Banbanglipuro, Lapangan Wukirasari di Imogiri, dan Lapangan Paseban di Bantul. Lokasi tersebut diperkirakan dapat menampung 50 ribu pengungsi.

"Saya belum bisa memastikan total kerusakan. Tetapi diperkirakan mencapai ratusan miliar," ujarnya.

Menurut dia, paling lambat 3 bulan semua jembatan serta tanggul dapat dipergunakan. "Sehingga dalam waktu 1 tahun ke depan kita bisa merehabilitasi Yogya dan Jawa Tengah," cetus Djoko.

Bantuan akan dikoordinasikan dengan organisasi daerah, antara lain Satkorlak Yogyakarta dan Satlak di Kabupaten Bantul.

Anggota DPR: Segera Jadikan Gempa Yogya Bencana Nasional

Gempa di Yogyakarta dan sekitarnya telah menewaskan 5.135 orang. Dengan jumlah korban tewas di atas 4 ribu orang, bencana itu sudah bisa dikategorikan bencana nasional.

Berdasarkan alasan tersebut, anggota Komisi V DPR Nusyirwan Soejono meminta pemerintah agar menjadikan gempa Yogya sebagai bencana nasional. Penetapan sebagai bencana nasional sangat penting untuk mempermudah dan meningkatkan penanganan pascabencana.

"Penetapan ini penting karena berimplikasi pada penanganan antarinstansi," kata Nusyirwan dalam rapat kerja Komisi V dengan departemen terkait membahas gempa Yogya di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (29/5/2006).

Dalam rapat tersebut, banyak anggota Komisi V yang mempertanyakan penanganan musibah di Yogya itu. Mayoritas anggota DPR menilai pemerintah sangat lambat dalam menangani bencana itu. Penangan yang dilakukan pemerintah masih sangat konvensional dan kurang efisien.

Abdullah Azwar Anas, anggota Komisi V dari PKB meminta pemerintah segera mengambil langkah-langkah cepat karena diperkirakan masih banyak koran yang tertimbun reruntuhan bangunan. "Saat ini perlu langkah ekstra karena penanganan bencana mandat UU," tandas Anas.

Sumber: Detikcom

Rehabilitasi Kerusakan Transportasi Yogya Butuh Rp 25 M

Sejumlah prasarana transportasi di Yogyakarta mengalami kerusakan akibat gempa. Untuk merehabilitasi kerusakan itu dibutuhkan dana Rp 25 miliar.

Hal itu disampaikan Sekjen Departemen Perhubungan (Dephub) Wendy Aritonang dalam rapat kerja dengan Komisi V DPR di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (29/5/2006).

Dana itu akan diprioritaskan untuk rehabilitasi prasarana Bandara Adisucipto sebanyak Rp 15 miliar. Sedangkan sisanya Rp 10 miliar untuk rehabilitasi prasarana kereta api.

Wendy memperkirakan, untuk rehabilitasi prasarana kereta api diperlukan waktu sekitar 5 bulan. Perbaikan itu membutuhkan waktu lama karena banyak sekali terjadi kerusakan di rel, bangunan stasiun, instalasi sinyal telkom dan listrik (sintelis), dan bangunan dinas.

Sementara untuk rehabilitasi prasarana Bandara Adi Sucipto diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 6 bulan. Menurut Wendy, semua aspek di bandara mengalami kerusakan mulai dari air side, terminal, dan lain-lain.

Rapat tersebut dipimpin oleh Ketua Komisi V Ahmad Muqowam dan dihadiri oleh seluruh mitra Komisi V seperti Sekjen Perumahan Rakyat, Dephub, Pekerjaan Umum, dan Pembangunan Daerah Tertinggal, serta seluruh BUMN yang menjadi mitra Komisi V.

Sumber: Detikcom

Rusak Berat di Pundong, Bantul

Gempa Yogya membuat beberapa ruas jalan terbelah. Daerah Bantul menjadi kawasan terparah. Di pedalaman, masih banyak korban tak tertangani. Dukuh Pentung, Seloharjo, Pundong, 100% rumahnya ambruk.



Sumber: Detikcom

Perusahaan Asuransi Mulai Melakukan Verifikasi Terhadap Korban Gempa Jogja

Yogyakarta - Kalangan perusahaan asuransi mulai melakukan verifikasi terhadap korban gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Diperkirakan butuh waktu 2-3 bulan untuk penyelesaian klaim.

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) yang memayungi perusahaan asuransi kerugian juga membentuk tim koordinasi, baik dari asuransi kerugian, broker, penilai kerugian (loss adjuster) untuk mengurusi penyelesaian pembayaran klaim.

"Sekarang ini sejumlah perusahaan akan mulai melakukan pendataan yang akan disebar di sejumlah lokasi kejadian," kata Direktur Eksekutif AAUI Adrian JK kepada detikcom, Senin (29/5/2006).

Dari pengalaman penanganan gempa di Aceh dan Nias, menurut Adrian, verifikasi membutuhkan waktu 2-3 bulan. Sehingga klaim yang dibayarkan baru bisa dilakukan setelah verifikasi.

Menurut Adrian, untuk penanganan kerugian akibat gempa di Indonesia ditangani oleh PT MAI Park, perusahaan yang dibentuk khusus untuk menutup risiko gempa.

Selain menelan korban jiwa, gempa di Yogya dan Jateng juga meruntuhkan ribuan bangunan rumah dan fasilitas umum. Seperti sekolah, Bandara Internasional Adisucipto, Mal Shapir Square, Mal Ambarukmo, dan Mal Solo Square.

"Kita belum bisa mengira-ngira berapa kerugian yang ditimbulkan," kata Adrian.

Sementara total klaim asuransi kerugian dalam bencana tsunami di Aceh dan Nias tahun 2004, AAUI mencatat angka sebesar Rp 2,2 triliun.

Asuransi Jiwa

Sementara perusahaan asuransi jiwa seperti Manulife juga telah menurunkan tim verifikasi korban di Yogya.

"Sampai saat ini kita masih memonitor terus kondisi di sana," kata Direktur PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia Adi Purnomo ketika dihubungi detikcom, Senin (29/5/2006).

Menurut Adi, belajar dari pengalaman di Aceh, proses verifikasi bisa memakan waktu 2 bulan.

Manulife membayar asuransi jiwa untuk korban di Aceh sebesar US$ 4 juta terhadap ahli waris 350 jiwa pemegang polis.

Sumber: Detikcom

Gudang Bulog Yogya Ikut Hancur

Yogyakarta - Gempa di Yogya dan sekitarnya ikut menghancurkan gudang Bulog. Meski demikian, Bulog memastikan pasokan dan distribusi beras untuk wilayah Yogya dan sekitarnya bisa diatasi hari ini.

"Bantuan sudah datang dan Insya Allah hari ini sudah bisa teratasi," ujar Dirut Perum Bulog Widjanarko Puspoyo sebelum mengikuti rapat koordinasi di Gedung Depkeu, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Senin (29/5/2006).

Widjanarko mengaku pada awal-awal setelah terjadinya gempa, Bulog tidak bisa berbuat banyak untuk menyalurkan beras. "Enam jam pertama tidak banyak berbuat, karena gudang kita juga hancur dan karyawan kita juga tidak ada," ungkapnya.

Pasokan beras Bulog telah dialokasikan ke setiap kabupaten sebanyak 100 ton beras yang alokasi tujuan dan prioritas distribusinya diserahkan kepada masing-masing bupati.

Widjanarko mengakui bahwa distribusi beras di beberapa kecamatan terpencil yang belum mendapatkan bantuan. Hal ini disebabkan karena ada kendala seperti komunikasi yang terputus, air dan listrik yang mati.

Namun ia optimistis bantuan mulai berdatangan dan daerah terpencil akan segera dapat dijangkau dan diatasi.

Bulog bersama TNI telah membangun 10 dapur umum yang masing-masing dapat melayani 500-1.000 orang. Setiap harinya dapur umum itu dipasok beras sebanyak 6 ribu ton.

Sumber: Detikcom

SBY Tinjau Kompleks Makam Raja-raja Imogiri

Yogyakarta - Salah satu kegiatan Presiden SBY dan rombongan selama di daerah bencana Yogyakarta adalah meninjau kompleks makam raja-raja Yogyakarta dan Surakarta di Kecamatan Imogiri, Kabupaten Bantul, Senin (29/5/2006). Di sela-sela meninjau, SBY akan melakukan salat di masjid di kawasan itu.

Imogiri adalah salah satu kecamatan di Bantul yang paling parah terkena gempa, letaknya 9 km selatan Yogya. Pasar Imogiri rata dengan tanah. Sepanjang jalan Yogya-Imogiri, sungguh sulit menemukan bangunan yang berdiri tegak.

Imogiri terkenal dengan kompleks makam raja-rajanya. Dalam musibah gempa 27 Mei, sebagian makam di kompleks ini mengalami kerusakan.

Pendiri komplek makam raja-raja di Imogiri adalah Sultan Agung pada abad 16. Yang boleh dimakamkan di sini adalah raja-raja Mataram, Surakarta dan Yogyakarta beserta keluarganya.

Raja Yogyakarta terakhir yang dimakamkan di sana adalah Sultan Hamengkubuwana IX, pada tahun 1988. Raja Surakarta terakhir adalah Sunan Pakubuwana XII pada tahun 2004.

Makam ini dibangun di tempat yang tinggi karena merupakan simbol dari persatuan arwah dengan para leluhurnya serta para dewa (Tuhan). Tempat yang tinggi (puncak gunung) dipandang sebagai tempat bersemayamnya arwah leluhur dan para dewa.

Dalam situs puri.co.id, dijelaskan, Bukit Imogiri mempunyai arti khusus sehingga makam Imogiri dibangun di sana. Tempat ini dulu sering dikunjungi oleh Sultan Agung untuk bertapa (bermeditasi).

Makam Sultan Agung terletak di puncak bukit Imogiri, tempat tertinggi pada komplek makam ini. Makam Sultan Agung adalah makam yang paling penting karena pada masa hidupnya Sultan Agung punya peranan besar dalam sejarah Mataram. Selain itu, Sultan Agung dianggap memiliki kekuatan supranatural yang paling besar dibandingkan raja-raja lain yang dimakamkan di sini.

Pintu masuk ke dalam cungkup Sultan Agung kecil dan ambang pintunya rendah. Pintu ini sengaja dibuat kecil sehingga orang hanya bisa masuk satu per satu ke dalam cungkup; ambang pintunya dibuat rendah supaya orang membungkuk jika mau masuk ke makam, sebagai tanda hormat kepada Sultan Agung yang dimakamkan di sana.

Komplek makam Imogiri terdiri dari delapan komplek makam, yang paling utama adalah komplek Kasultanagungan dan komplek Pakubuwanan, kedua komplek ini berisi makam leluhur Kerajaan Yogyakarta dan Surakarta.

Kerajaan Yogyakarta memiliki tiga komplek makam lain yang terletak di sebelah kiri komplek Kasultagungan dan komplek makam Pakubuwanan, sedangkan kerajaan Surakarta juga memiliki tiga komplek makam lain yang terletak di sebelah kanan komplek Kasultanagungan dan Pakubuwanan.

Sumber: Detikcom

SPBU di Yogya Masih Diantre

Yogyakarta - Gara-gara terkena dampak gempa dahsyat Sabtu (27/5/2006) lalu, sejumlah SPBU di Kota Yogyakarta masih belum bisa beroperasi. SPBU-SPBU yang beroperasi akhirnya diserbu pembeli. Antrean pun tidak bisa dihindari.

Pemandangan ini terlihat di sepanjang Jl. Wonosari, Yogyakarta. Pemantauan detikcom, Senin (29/5/2006) pukul 10.40 WIB, antrean pembeli BBM memadati SPBU di Jl. Wonosari KM 10. Mereka tampak tertib untuk menanti giliran mengisi premium.

Hal yang sama juga terlihat di SPBU di Jl. Wonosari KM 8. SPBU ini juga diserbu pembeli. Meski diantre, proses pembelian BBM di SPBU lancar-lancar saja.

Hanya dua SPBU di Jl. Wonosari yang beroperasi. SPBU di KM 14 dan SPBU lainnya tampak tutup. Begitu juga dengan SPBU di daerah Piyungan, Bantul. Sebab, hingga kini aliran listrik di Piyungan, masih putus.

Sumber: Deikcom

Malioboro Mall Rusak Parah, Karyawan Diliburkan

Yogyakarta - Pusat perdagangan Malioboro Mall rusak parah akibat gempa. Dinding retak-retak dan kaca-kaca pecah. Karyawan pun diliburkan.

Pukul 09.50 WIB, sekitar 100 karyawan mendatangi Malioboro Mall guna mengetahui kondisi tempat mereka bekerja pada Senin (29/5/2005).

Mereka berkumpul di halaman parkir. Sementara kerusakan di dalam gedung belum dapat diketahui mengingat pintu utama mall ditutup dan setiap orang tidak diperkenankan masuk.

"Saya ingin tahu apakah masih dapat bekerja di sini atau tidak," kata Utami, salah seorang karyawan.

Koordinator Pengelola Gedung Malioboro Mall Hendro Susanto menyatakan, tim konsultasi ahli sudah datang untuk mendeteksi bangunan.

"Tidak ada masalah dan hanya retak-retak. Renovasi akan segera mulai dan 2-3 minggu akan beroperasi lagi," kata Hendro.

Menurut dia, total kerugian belum dapat diprediksi.

Sumber: Detikcom

Butuh 5-6 Tahun untuk Perbaiki Candi Prambanan

Klaten - Mulai Senin (29/5/2006) ini, otoritas kepurbakalaan mulai bekerja menginventarisasi candi-candi yang rusak akibat gempa bumi. Petugas memeriksa apakah kerusakan yang terjadi hanya di bagian atas atau menyentuh di bagian pondasi candi.

Ada lima candi di Prambanan yang rusak, yaitu Candi Prambanan, Candi Boko, Candi Sewu, Candi Plaosan dan Candi Sojiwan.

Ketua Satgas Pemulihan Situs Purbakala yang merangkap Kepala Kelompok Kerja Perlindungan Benda Purbakala di Balai Pelestarian dan Peninggalan Purbakala (BP3), Lambang B.Purnomo, menyatakan, dengan kerusakan kecil saja, perbaikan kelima candi itu akan membutuhkan waktu 5-6 tahun.

"Kalau sampai pondasi, pemugaran akan makan lama," kata Lambang di kawasan Candi Prambanan, Klaten, Jawa Tengah, Senin (29/5/2006).

Selain itu, arca-arca yang ada di kantor BP3 Klaten juga berantakan. Termasuk arca Brahma yang belum lama ini diambil dari kawasan Candi Gedong Songo, Ungaran. Arca itu buatan abad 8. Arca-arca yang ada di kantor BP3 rusak berat, semua bagian patah.

Suasana kantor BP3 di Prambanan juga kacau balau. Komputer pecah berantakan, lemari lintang pukang, arca-arca bertebaran, kertas-kertas berserakan. Amburadul.

Sumber: Detikcom

Warga Yogya Berebut Beli Sembako di Pasar Wonosari

Yogyakarta - Banyaknya pasar yang tidak beroperasi, membuat warga Yogyakarta panik. Mereka pun menyerbu pasar-pasar yang masih buka. Salah satunya, Pasar Wage Wonosari. Mereka berebut membeli sembako.

Pemantauan detikcom, pukul 10.15 WIB, Senin (29/5/2006), masyarakat Yogya masih memadati Pasar Wage yang tidak seberapa besar itu. Pasar ini diserbu warga, karena menjadi satu-satunya pasar yang beroperasi di kawasan Wonosari dan Piyungan, Bantul.

Pasar Piyungan yang berukuran lebih besar yang biasanya ramai dengan pembeli, saat ini tidak beroperasi. Bangunan pasar Piyungan ini hancur dihantam gempa.

Pasar Wage hanya mengalami kerusakan ringan. Karena itu, sebagian pedagang masih membuka kios dan tokonya. Kios-kios yang diserbu adalah kios yang menjual sembako.

Yang menarik, warga yang berebut membeli sembako ini adalah kaum lelaki. Saling dorong sempat terjadi di kios-kios sembako ini. Beberapa bahan sembako yang diserbu pembeli, antara lain beras, gula, telor, dan mie instan.

Pasar Wage ini diserbu pembeli sejak pagi hari. Meski banyak warga yang berebut membeli sembako, namun tidak tampak ada pengamanan polisi atau TNI di pasar ini.

Sumber: Detikcom

Warga Klaten Keluhkan Bantuan Pemerintah Tak Kunjung Datang

Klaten - Hingga 2 hari setelah gempa, bantuan dari pemerintah belum sedikit pun sampai di lokasi gempa di Klaten, Jawa Tengah. Warga pun mengeluh dan melakukan penggalangan sendiri dengan meminta bantuan di jalan-jalan.

"Sampai pagi ini belum ada sedikit pun bantuan yang kita terima dari pemerintah, baik berupa tenda untuk pengungsian, alas untuk tidur, beras, makanan belum kita terima," kata Ngadiman, warga Desa Canan, Kecamatan Wedi, Klaten, kepada detikcom, Senin (29/5/2006).

Di sepanjang jalan di daerah Kecamatan Wedi dan Gantiwarno, warga masih banyak yang meminta bantuan di jalan-jalan. Penggalangan bantuan di jalan-jalan itu merupakan satu-satunya cara yang bisa warga upayakan untuk mendapat bantuan secara cepat.

Menurut Ngadiman, dari hasil minta-minta di jalan kepada setiap pengendara yang lewat, warga Wedi, Minggu 28 Mei kemarin berhasil mengumpulkan Rp 300 ribu. Uang itu cukup untuk menghidupi dapur umum. Selain itu warga juga tertolong dengan adanya pemberian air mineral dan nasi bungkus dari pengendara yang lewat.

Semalam warga Klaten masih tidur di jalan-jalan dan di tempat-tempat lapang. Di Desa Canan, sebenarnya masih cukup banyak rumah yang berdiri, tapi warga takut untuk masuk. Pasalnya kondisi rumah sudah retak-retak parah dan bagian dalam sudah siap ambruk bila ada gempa susulan.

Sampai sekarang alat berat yang dijanjikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) juga belum datang. Demikian pula listrik di Klaten masih tetap mati.
Sumber: Detikcom

Korban Tewas 5.135 Orang

Yogyakarta - Hingga pukul 09.00 WIB, Senin (29/5/2006), Satkorlak Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mencatat korban tewas sebanyak 5.135 orang. Sementara rumah yang rusak mencapai 45.289 unit.

Korban tewas terbesar akibat gempa berkekuatan 5,9 SR pada Sabtu 27 Mei lalu, masih didominasi Kabupaten Bantul yang tercatat 3.802 orang.

Sementara Kabupaten Sleman tercatat 174 orang, Yogyakarta sebanyak 150 orang, Gunung Kidul tercatat 45 orang, Kulonprogo sebanyak 15 orang, dan Jawa Tengah untuk sementara sebanyak 1.672 orang.

Data korban tewas di Jawa Tengah masih merupakan data hingga Minggu 28 Mei. Sementara untuk rumah yang rusak tercatat 45.289 unit. Di lingkup Yogya sendiri rumah yang rusak tercatat 26.415 unit.

Bantuan

Sementara untuk bantuan yang sangat dibutuhkan korban gempa, Satkorlak mencatat sejumlah medical suplai, seperti infus, antibiotik, penghilang sakit, perban, cairan antiseptik, dan obat diare.

Selain obat-obatan, bantuan yang diharapkan adalah makanan, minuman, tenda, genset kecil dan pakaian pantas pakai.

Sementara tim medis dari luar negeri sudah mulai berdatangan dari Malaysia, Singapura, Thailand dan Australia. Sementara Cina juga akan segera mengirim bantuan.
Sumber: Detikcom

Kerugian Sementara Rp 2,8 T

Yogyakarta - Kerugian materi akibat gempa di Yogyakarta dan sekitarnya ditaksir triliunan rupiah. Angka sementara tercatat Rp 2,8 triliun. Angka ini masih akan bertambah.

"Ini angka sementara, Rp 2,8 triliun. Masih ada kemungkinan bertambah lagi," ungkap Sekda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Bambang S Priyohadi.

Bambang menyampaikan data itu di Satkorlak DIY, Kompleks Kepatihan Kantor Gubernur DIY, Jalan Malioboro, Yogyakarta, Senin (29/5/2006).

Angka kerugian yang disebutkannya, ungkap Bambang, masih sangat kecil karena obyek pendataan yang dilakukannya baru sedikit.

"Masih banyak yang belum didata. Jadi masih akan bertambah," tegas Bambang lagi.

Akibat gempa berkekuatan 5,9 SR pada Sabtu 27 Mei lalu, puluhan ribu rumah rusak dan nyaris rata dengan tanah. Data Satkorlak DIY menyebutkan 45.289 unit.
Sumber: Detikcom

100-an Korban Gempa Minta Sumbangan di Pinggir Jalan

Bantul - Bantuan tak kunjung sampai, 100-an korban gempa Yogyakarta pun memenuhi pinggir-pinggir jalan. Mereka minta belas kasihan pengguna jalan.

Panci, kardus, dan wadah plastik jadi alat yang digunakan korban gempa untuk diulurkan kepada para pengendara.

Hampir setiap jarak sekitar 10-20 meter, terlihat sekitar 5 korban gempa yang kebanyakan anak-anak muda yang meminta sumbangan.

"Sampai hari ketiga ini baik dari posko kecamatan maupun kabupaten belum menyalurkan sumbangannya ke dusun maupun desa yang tertimpa bencana," kata Lasiman, salah seorang warga Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Bantul, Senin (29/5/2006).

Saat ini, lanjut dia, persediaan sembako milik warga sudah habis sehingga warga terpaksa mencari sumbangan secara swadaya.

Pemandangan warga yang meminta sumbangan antara lain terlihat mulai dari Jl Imogiri Barat, Desa Timbulharjo, Kecamatan Sewon hingga Desa Canden Jetis, Bantul.

Sedangkan di Jl Imogiri Timur mulai dari perempatan Dusun Jejeran, Desa Wonopromo, Pleret hingga Karangtalun Imogiri.

Lalu di wilayah Kecamatan Bangunpapan dan di sepanjang jalan Desa Sampakan hingga Desa Bawuran, Pleret, Bantul.

Sementara di posko-posko pengungsian terpampang tulisan "Menerima bantuan sumbangan".
Sumber: Detikcom

Tenda Plastik Bocor, Reruntuhan Dikumpulkan untuk Berteduh

Bantul - Kayu dan papan dari reruntuhan rumah-rumah yang roboh akibat gempa Yogyakarta dikumpulkan warga. Tenda plastik yang dihuni warga tak layak lagi jadi tempat berteduh.

Sebab selama dua hari belakangan ini, setiap malam hari turun hujan deras. Tenda plastik yang jadi andalan untuk bernaung ternyata bocor.

"Kami semalaman tidak bisa tidur karena tenda plastik bocor," keluh Lasiman, salah seorang warga Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Bantul, Senin (29/5/2006).

Tak mau kejadian dua hari itu terulang lagi, warga yang merupakan pria dewasa pun mengumpulkan kayu dan papan untuk tenda darurat.

Sebagian dari mereka juga melakukan evakuasi. Meski sudah ada personel TNI yang masuk di sekitar Desa Sitimulya maupun Bawuran, Pleret, namun mereka masih terfokus untuk mencari korban, belum pada penanganan pengungsi.
Sumber: Detikcom

Korban Gempa Patungan Beli Lauk

Bantul - Perut keburu keroncongan menantikan distribusi bantuan bagi korban bencana gempa Yogyakarta yang tak kunjung sampai. Warga pun patungan untuk membeli lauk-pauk.

"Untuk masak hari ini kami terpaksa patungan untuk membeli lauk pauk. Sedangkan beras berasal dari simpanan warga yang masih punya," tutur Lasiman, salah seorang warga Desa Sitimulyo, Kecamatan Piyungan, Bantul, Senin (29/5/2006).

Namun dalam waktu dua hari mendatang, lanjut dia, warga sudah tidak punya stok lagi jika tidak ada bantuan dari kecamatan maupun kabupaten.

"Pagi ini kami makan oseng-oseng tempe dan sayur kacang panjang dari hasil patungan," kata Lasiman.


Sumber: Detikcom

Data Korban yang Dirawat Di Rumah Sakit di Jogja

1. RS Sardjito Yogyakarta (last update : 30/05/2006 Pk. 00.46 WIB)
download (PDF) di sini

2. RSUD Bantul (last update : 30/05/2006 Pk. 00.46 WIB)
download (PDF) di sini
3. RS Bethesda Yogyakarta (last update : 30/05/2006 Pk. 00.46 WIB)
download (PDF) di sini


sumber: gudeg.net

Kereta Kencana Ikut Mengungsi

Yogyakarta - Akibat gempa, Museum Kereta Kencana Keraton Yogyakarta mengalami kerusakan yang cukup parah. Tembok museum retak, genting-genting banyak yang berjatuhan.

Akibatnya puluhan kereta kencana yang disimpan di museum bersejarah tersebut diungsikan ke Pagelaran Keraton.

Pada hari biasa Pagelaran Keraton digunakan untuk acara kesenian baik untuk menyambut tamu keraton atau acara-acara keraton.

Namun saat ini Pagelaran Keraton Yogyakarta dipenuhi oleh sekitar 20 kereta kencana.

Kendaraan kebesaran para raja Yogyakarta ini pun ditutup rapat dengan kain putih agar tidak disentuh karena banyak pengungsi yang sedang menginap di Pagelaran. Selain itu untuk menjaga agar kereta tidak rusak.

Menurut warga yang tinggal di sekitar Keraton, Agus, kereta-kereta itu diungsikan mulai hari ini karena kondisi museum telah rusak parah.

"Sehingga untuk menyelamatkan kereta akhirnya diungsikan karena memiliki nilai sejarah," ujar Agus kepada detikcom di Keraton Yogyakarta, Senin (29/5/2006).

Namun tdak tampak abdi dalem Keraton yang menjaga kereta, hanya tampak warga sekitar Keraton yang ikut mengamankan kereta dari tangan jahil.

Sumber: Detikcom

Ternyata Indonesia Tak Punya Seismograf di Selatan Pulau Jawa

Indonesia ternyata tidak memiliki seismograf (alat pendeteksi gempa) yang ditempatkan di wilayah selatan Pulau Jawa hingga tingkat keakuratan dalam membaca titik gempa tidak tepat atau berbeda dengan informasi yang dikeluarkan United States Geological Survey (USGS) Amerika Serikat.

"Seismograf yang dimiliki Indonesia hanya ditempatkan di Pulau Jawa saja untuk patahan/sesar darat, sedangkan di bagian selatan atau wilayah laut tidak ditempatkan," kata Surono, Kasubdit Mitigasi Bencana Geologi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi di Jakarta, Minggu (28/5).

Seharusnya, menurut dia, seismograf tersebut diletakkan dengan mengurung daerah yang rawan gempa hingga dapat mendeteksi titik terjadinya gempa. "Mungkin USGS (semacam BMG di Indonesia-Red) sendiri memiliki alat merekam getaran gempa itu di bagian selatan dari wilayah Indonesia," katanya.

Berdasarkan informasi dari USGS AS, kekuatan gempa itu sebesar Mw 6,2 atau setara dengan 5,6 Skala Richter (SR) dengan kedalaman 17,1 kilometer serta posisi di 110,286 derajat Bujur Timur (BT) dan 8.007 derajat Lintang Selatan (LS). Atau posisinya berada sekitar 25 kilometer arah Barat Daya Yogyakarta dan sekitar 115 kilometer arah selatan Kota Semarang, Jawa Tengah.

Sementara itu, data dari Stasiun Geofisika Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Yogyakarta, menyebutkan kekuatan gempa yang terjadi Sabtu pagi 5,9 SR dengan posisi di koordinat 8,26 Lintang Selatan (LS) dan 110,33 Bujur Timur (BT) atau berjarak 38 kilometer selatan Yogyakarta.

Perbedaan mendasar antara data USGS dan BMG itu terletak pada kedalaman gempa itu sendiri karena USGS menyebutkan 17,1 kilometer sedangkan BMG 33 kilometer.

Sumber: Suara Merdeka

Masyarakat Aceh Galang Bantuan untuk Jogja

Banda Aceh, Penggalangan bantuan kemanusiaan bagi korban gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah terus dilakukan oleh masyarakat di Aceh, yang baru bangkit dari musibah tsunami. Sejak Minggu (28/5) pagi, puluhan mahasiswa Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, menggalang bantuan untuk korban musibah gempa bumi di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Badan Eksekutif Mahasiswa Unsyiah menurunkan puluhan relawan untuk mengumpulkan sumbangan dari masyarakat Aceh. Pantauan acehkita.com, puluhan mahasiswa dengan memakai baju almamater, mangkal di sejumlah perempatan jalan di Banda Aceh untuk mengumpulkan sumbangan dari pengguna jalan.

Hal itu seperti terlihat di Bundaran Simpang Lima, Simpang Jam, dan perempatan Simpang Surabaya. Para mahasiswa menyodorkan kaleng atau kardus bantuan kepada semua pengguna jalan. Bahkan, beberapa mahasiswa Unsyiah sempat mendirikan sebuah tenda untuk mengumpulkan dana di malam hari di Bundaran Simpang Lima.

Sementara itu, kalangan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) membentuk sebuah aliansi yang diberi nama “Poros Kemanusiaan Aceh untuk Yogya-Jateng. Menurut TAF Haikal, koordinator, poros ini bertujuan untuk menggalang bantuan kemanusiaan sebagai bentuk kepedulian rakyat Aceh kepada masyarkaat korban gempa Yogya-Jateng.

”Meski Aceh sedang bangkit dari bencana gempa dan tsunami 26 Desember 2004 lalu, tetapi kita perlu menyisihkan sedikit sumbangan bagi saudara-saudara kita di Yogya dan Jateng yang sedang tertimpa musibah sebagai bentuk kepedulian rakyat Aceh,” katanya dalam siaran pers yang diterima acehkita.com, Ahad.

Poros Kemanusiaan Aceh untuk Yogya-Jateng digagas sejumlah komponen masyarakat sipil dalam suatu pertemuan yang dilaksanakan di Banda Aceh, hari Minggu (28/5). Direncanakan pada Selasa (30/5), tim relawan pertama dari Aceh akan berangkat ke Yogya dengan membawa sejumlah bantuan kemanusiaan berupa tenda dan makanan. Hingga kini, komitmen sumbangan dana yang diterima dari masyarakat Aceh sebanyak 150 juta. Selain yang sedang digalang JKMA dan YAB.

Tugas tim ini untuk menyelaraskan kegiatan lanjutan di lokasi bencana dengan Poros Kemanusiaan Aceh di Banda Aceh. Selain itu, tim ini juga untuk memperkuat posko Aceh untuk Yogya di Taman Pelajar Aceh (TPA), yang telah digagas oleh para mahasiswa asal Aceh yang menuntut ilmu di berbagai universitas di Yogyakarta.

Kepada semua pihak yang bermaksud menyampaikan bantuan bisa menghubungi simpul-simpul di bawah koordinasi Poros Kemanusiaan Aceh untuk Yogya dan Jateng seperti JKMA, Walhi Aceh, RTA, ADF, Gerak, Forum LSM Aceh, dan juga kantor BRR NAD-Nias atau sekretariat PKA-Jogya dan Jateng yakni di kantor Koalisi NGO HAM Aceh, Jalan Sudirman No 11 C Banda Aceh.

Untuk keterangan lebih lanjut, pembaca yang ingin menyalurkan bantuan bisa menghubungi

---------------------------------------------
Sekretariat Bersama Poros Kemanusiaan Aceh
untuk Yogya-Jateng,

Jl. Sudirman No. 11 A , Geuceu Kayee Jatoe, Banda Aceh.
---------------------------------------------

Sementara itu, jika pembaca acehkita.com ingin mengetahui kondisi masyarakat Aceh di Jogya dan Jateng, bisa menghubungi

---------------------------------------------
Taman Pelajar Aceh (TPA) Yogyakarta,
Jl. Kartini No. 1 A , Sagan, YOGYAKARTA,
Telp (0274)580920 atau

kepada
Mohd Meidiansyah (Ketua TPA) : 0852-2827-9695;
Cut Novianita (Ketua Asrama Putri Cut Nyak Dhien) : 0813-6052-9100.
---------------------------------------------
Sumber : acehkita.com