Wednesday, May 31, 2006

Tiba tiba tanah Bergetar

Pagi itu Tugiman (47) berangkat ke sawah seperti biasa. Dia tidak memiliki firasat apa-apa ketika meninggalkan istri dan kedua anaknya untuk bekerja sebagai seorang buruh tani. Penduduk Desa Ngatak,
Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, itu hanya merasakan getaran keras ketika sedang bekerja di sawah.

Ternyata getaran keras tersebut diikuti suara jerit tangis dan teriakan orang panik dari arah pemukiman penduduk Tugiman pun bergegas berlari menuju rumahnya yang berjarak ratusan meter dari sawah. “Saya terkejut, ternyata rumah saya sudah rata dengan tanah, saya tidak melihat anak istri saya,” ungkap Tugiman ketika ditemui di Ruang ICU Anak Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr Soeradji Tirtonegoro, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (30/5).

Tugiman duduk bersimpuh dan terdiam tidak tahu berbuat apa-apa. Tak ada orang yang menolong, semua warga panik. Tiba-tiba dia mendengar sayup-sayup teriakan dari reruntuhan bangunan rumahnya, “Saya di sini Pak, Saya di sini Pak! Dia pun segera menyingkirkan reruntuhan bangunan dan mendapati putra sulungnya, Joko Sunaryo (16), terkulai sambil menjerit kesakitan.

“Untung saya mendengar jeritan putra saya, kemudian saya temukan dia berada di samping ibu dan adiknya. Putra saya hanya mengalami patah kaki, istri saya luka ringan di kepala, sementara anak bungsu saya tidak sadarkan diri,” katanya lirih.

Putri Tugiman, Setyorini (11), masih dalam kondisi kritis. Menurut dokter, bocah yang duduk di kelas V SD itu mengalami pendarahan di bagian otak. Bocah itu sesekali terlihat menggenggam selimut dengan keras karena menahan sakit di kepalanya. “Tadinya saya mengira dia telah meninggal dunia, namun karena saya mendengar suara napasnya satu-satu saya langsung membawanya ke rumah sakit ini,” tambah Tugiman.

Seperti kiamat di pagi hari, itulah yang mungkin dirasakan Tugiman. Hampir semua bangunan di desanya porak-poranda diguncang gempa tektonik berkekuatan 5,9 skala Richter yang terjadi hari Sabtu (27/5) lalu. “Semuanya begitu cepat, rumah saya hancur dan anak saya sampai hari ini tidak sadarkan diri,” tuturnya.

Kengerian akibat gempa di Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah juga dirasakan Sugito (29) dan keluarganya. Sugito beserta istri dan seorang anaknya sedang tertidur pulas ketika gempa itu terjadi. “Kejadiannya begitu cepat sekali, rumah saya bergetar dengan sangat keras, lalu tiba-tiba saya sudah berada dalam timbunan batu dan kayu runtuhan rumah,” kata warga Desa Pacing, Kecamatan Wedi, Klaten, itu.

“Saya merasakan sakit di sekujur tubuh dan rasanya tidak bisa bergerak. Saya coba berteriak, namun semuanya sia-sia. Saya merasa mau mati saja. Namun, saya lihat anak saya menangis, istri saya mengerang kesakitan dan kepalanya berdarah. Melihat itu, saya mencoba untuk bangkit dan keluar dari reruntuhan bangunan,” tambahnya.

Dengan tenaga tersisa, Sugito berusaha sekuat tenaga menyingkirkan runtuhan bangunan yang menimpa keluarganya. Setelah berjuang lebih dari setengah jam akhirnya, pria yang bekerja sebagai buruh tani itu dapat keluar dan menolong istri dan anaknya. Istri Sugito saat ini masih dirawat di RSUP Klaten karena mengalami patah tulang.

Sementara Sugito sendiri dan Riska (3) putrinya hanya menderita cedera ringan di bagian kepala. “Mungkin karena kebesaran Tuhan saja, saya dan istri dan anak saya masih selamat, karena banyak tetangga saya yang meninggal, hampir semua bangunan di desa saya rata dengan tanah,” tambahnya.

Kehilangan harta benda dan kehilangan orang yang dicintai sangat dirasakan oleh sebagian warga Klaten. Sebagian warga yang mengungsi di RSUP mengaku masih trauma akibat kejadian tersebut. Mereka masih memilih bertahan di rumah sakit kendati telah mendapatkan perawatan dan diizinkan pulang.

“Ngeri saya bila mengingat kejadian tersebut, saya memilih tinggal di sini sementara, lagi pula rumah saya sudah hancur, saya tidak punya apa-apa lagi,” kata Sugito.

Sumber: Kompas

0 Comments:

Post a Comment

<< Home